Suatu hari Su Dong Bo berlatih meditasi dengan posisi duduk saling berhadapan dengan gurunya.
Setelah meditasi, Su Dong Bo bertanya pada gurunya,
" Guru bagaimana tampakku ketika lagi bermeditasi?"
Sang Guru, " Wah kamu tampak tenang, hening, berwibawa, seperti Budha"
Mendengar itu Su Dong Bo senang sekali,
lalu bertanya, " Guru pingin tau bagaimana tampak guru ketika lagi meditasi ?"
Sang Guru, " Benar juga, bagaimana tampak guru?"
Su Dong Bo, " Guru tampak bagai seonggokan kotoran sapi"
Mendengar jawaban muridnya yang kasar, sang Guru sama sekali tidak marah, hanya menerima dengan senyuman.
Sekembali ke rumah Su Dong Bo bercerita penuh semangat pada adiknya, " Dik selama ini aku selalu kalah berdebat dengan guru.
Tapi hari ini aku menang mutlak, guru kubuat bungkam bagai orang bisu."
Sang adik, " O ya? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"
Su Dong Bo, " Guru berkata sewaktu bermeditasi aku tampak berwibawa seperti Budha! Dan ketika guru bertanya bagaimana tampak beliau kala bermeditasi? Kujawab guru bagai seongggokan kotoran sapi, guru langsung terdiam tak berkutik. Haa ha haha."
Sang adik, " Kakak kasihan kamu. Hari ini kamu benar-benar kalah mutlak!."
Su Dong Bo, " Lho kog bisa?"
Adik, " Hati guru ada Budha maka guru melihat kamu bagai Budha. Sedangkan hatimu penuh kotorna sapi maka di matamu guru bagaikan kotoran sapi!"
Hati-hatilah, fenomena diluar selalu merupakan pantulan fenomena dari hati kita.
Hati yang dibungkus kebodohan akan memandang bodoh semua orang.
Setelah meditasi, Su Dong Bo bertanya pada gurunya,
" Guru bagaimana tampakku ketika lagi bermeditasi?"
Sang Guru, " Wah kamu tampak tenang, hening, berwibawa, seperti Budha"
Mendengar itu Su Dong Bo senang sekali,
lalu bertanya, " Guru pingin tau bagaimana tampak guru ketika lagi meditasi ?"
Sang Guru, " Benar juga, bagaimana tampak guru?"
Su Dong Bo, " Guru tampak bagai seonggokan kotoran sapi"
Mendengar jawaban muridnya yang kasar, sang Guru sama sekali tidak marah, hanya menerima dengan senyuman.
Sekembali ke rumah Su Dong Bo bercerita penuh semangat pada adiknya, " Dik selama ini aku selalu kalah berdebat dengan guru.
Tapi hari ini aku menang mutlak, guru kubuat bungkam bagai orang bisu."
Sang adik, " O ya? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"
Su Dong Bo, " Guru berkata sewaktu bermeditasi aku tampak berwibawa seperti Budha! Dan ketika guru bertanya bagaimana tampak beliau kala bermeditasi? Kujawab guru bagai seongggokan kotoran sapi, guru langsung terdiam tak berkutik. Haa ha haha."
Sang adik, " Kakak kasihan kamu. Hari ini kamu benar-benar kalah mutlak!."
Su Dong Bo, " Lho kog bisa?"
Adik, " Hati guru ada Budha maka guru melihat kamu bagai Budha. Sedangkan hatimu penuh kotorna sapi maka di matamu guru bagaikan kotoran sapi!"
Hati-hatilah, fenomena diluar selalu merupakan pantulan fenomena dari hati kita.
Hati yang dibungkus kebodohan akan memandang bodoh semua orang.